Demikianlah kaum
Yahudi dibersihkan dari Madinah. Nabi saw kembali melanjutkan
pergulatannya. Puncak dari perjuangan politiknya adalah perjanjian yang beliau
lakukan bersama orang-orang Quraisy. Nabi saw berjalan untuk melaksanakan
umrah dan mengunjungi
Baitul Haram. Beliau keluar bersama seribu empat ratus kaum lelaki yang bertujuan untuk berziarah ke Baitul Haram guna
melaksanakan umrah. Ketika mereka sampai di Hudaibiyah pinggiran kota Mekah, tiba-tiba unta yang
ditunggangi Nabi duduk dan ia tidak
mau melangkah menuju Mekah. Melihat itu para sahabat berkata: "Oh
unta itu malas." Nabi saw berkata: "Tidak Demikian namun ia ditahan oleh Zat yang menahan laju gajah
menuju Mekah. Sungguh jika hari ini orang Quraisy membuat suatu rencana
dan mereka meminta agar aku menyambung tali silaturahmi niscaya aku akan menyetujuinya."
Nabi saw
memerintahkan para sahabat agar tetap tinggal di Hudaibiyah. Kaum
Muslim beristirahat di sana dengan harapan mereka dapat memasuki
Mekah di waktu pagi. Peristiwa itu bertepatan dengan bulan Haram. Mekah telah menetapkan agar tak
seorang pun dari kaum Muslim dapat
memasukinya. Semua kaum Quraisy telah
keluar untuk memerangi kaum Muslim. Mereka mengutus utusan-utusan kepada Nabi saw lalu beliau memberitahu mereka
bahwa beliau tidak datang untuk berperang namun beliau ingin melakukan urnrah sebagai bentuk pujian dan syukur kepada Allah
SWT dan mengagumkan kemuliaan rumah-Nya yang suci. Mekah menetapkan untuk melakukan perjanjian
bersama kaum Muslim di mana mereka menginginkan agar jangan sampai kaum Muslim memasuki Baitul Haram pada tahun ini
kecuali setelah mereka kembali pada
tahun depan.
Datanglah juru runding kaum Quraisy lalu
Rasul saw menyambutnya dan mendengarkan ia menyampaikan syarat-syarat perjanjian yang
intinya pelaksanaan perdamaian dan penarikan mundur pasukan
Muslim. Nabi saw menyetujui semua syarat-syarat perjanjian meskipun
tampak bahwa perjanjian tersebut tidak menguntungkan kaum Muslim di mana itu dianggap sebagai
titik kemunduran politik dan militer kaum Muslim, dan yang menambah kebingungan kaum Muslim adalah bahwa Rasul saw
tidak melibatkan seseorang pun dari
kalangan sahabatnya untuk bermusyawarah dalam hal ini. Tidak biasanya
beliau bersikap demikian. Para sahabat
menyaksikan beliau pergi menemui kaum musyrik dan bersikap sangat lembut
kepada mereka, dan beliau tidak kembali kecuali
membawa berita persetujuan dengan perjanjian yang di prakarsai orang-orang musyrik, dan beliau pun
membubuhkan tanda tangan di atasnya.
Para sahabat bergerak
untuk menentang Rasulullah saw. Mereka bertanya kepada beliau, "bukankah
engkau utusan Allah SWT? Bukankah kita kaum Muslim? Bukankah
musuh-musuh kita kaum musyrik?"
Nabi saw hanya mengiyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Umar bin
Khatab kembali bertanya: "Mengapa kita harus menerima penghinaan dalam
agama kita?" Umar
ingin mengungkapkan sesuai dengan bahasa kita saat ini, "mengapa kita
harus mundur kalau kita berada di atas kebenaran? Mengapa kita menerima
syarat-syarat perjanjian yang justru
menguntungkan kaum musyrik? Apakah
kita takut terhadap mereka?"
Mendengar
berbagai protes yang disampaikan para sahabatnya, Rasul saw justru menyampaikan
jawaban yang unik bagi mereka di mana beliau berkata: "Aku adalah hamba
Allah SWT dan Rasul-Nya dan aku tidak mungkin menentang perintah-Nya
dan Dia tidak mungkin akan menyia-nyiakan aku." Makna dari kalimat beliau adalah, "taatilah apa yang
telah aku lakukan tanpa perlu memperdebatkannya
dan hendaklah kalian sedikit bersabar."
Perjalanan hari
menetapkan bahwa perjanjian yang menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah
sahabat itu justru membawa kemenangan politik paling gemilang yang pernah
dicapai oleh umat Islam. Kemenangan tersebut diperoleh sebagai hasil dari
kebijaksanaan sang Nabi saw yang mengalahkan kelihaian politik kaum Quraisy.
Kaum Quraisy telah memfokuskan semua kelihaian-nya agar kaum Muslim
kembali ke tempat mereka tanpa memasuki Masjidil Haram pada tahun ini, namun hikmah Nabi saw justru
mampu mencapai pengelihatan yang tidak dapat
dijangkau oleh kaum itu yang berkenaan dengan masa depan. Jika saat ini perjanjian
tersebut tampak membawa kekalahan bagi kaum Muslim, maka setelah berlangsung
beberapa bulan ia justru mendatangkan kemenangan
yang spektakuler.
Suhail bin Amr adalah
wakil dari delegasi kaum Quraisy dan Ali bin Abi Thalib adalah juru tulis dalam
perjanjian itu dari pihak Nabi saw. Rasulullah saw berkata kepada Ali:
"Tulislah dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang." Utusan Quraisy berkata, aku tidak mengenal ini. Tapi
tulislah dengan nama-Mu, ya Allah. Rasulullah saw berkata kepada Ali: "Dengan nama-Mu, ya
Allah." Sikap keras kepala utusan Quraisy itu tidak berarti sama sekali karena tidak ada perbedaan yang mencolok
antara dengan namamu Allah dan
dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang selain niat si
pembicara.
Nabi saw berkata kepada Ali: "Ini
adalah perundingan antara Muhammad saw
utusan Allah dan Suhail bin Amr." Mendengar itu dengan nada menentang Suhail bin Amr berkata:
"Seandainya aku bersaksi bahwa
engkau adalah utusan Allah niscaya aku tidak akan memerangimu, tetapi tulislah namamu dan nama
ayahmu." Nabi berkata kepada
Ali tulislah: "Inilah kesepakatan antara Muhammad bin Abdillah dan Suhail bin Amr."
Tampaknya itu
adalah kemunduran yang kedua dan dengan pandangan yang sekilas tampak
menjatuhkan kaum Muslim tetapi Nabi saw ingin mewujudkan suatu tujuan
yang
penting yaitu tujuan yang belum terungkap saat itu. Alhasil, semuanya
terjadi
dengan ilham dari Allah SWT. Ali kembali menulis bahwa Muhammad bin
Abdillah dan
Suhail bin Amr sama-sama sepakat untuk menghentikan peperangan selama
sepuluh tahun di
mana hendaklah masing-masing mereka
memberikan keamanan terhadap sesama mereka. Namun jika terdapat di
antara orangorang Quraisy seseorang yang masuk Islam lalu ia datang
kepada Muhammad saw
tanpa izin walinya hendaklah kaum
Muslim mengembalikannya kepada kaum Quraisy.
Sebaliknya, jika ada orang yang murtad dari sahabat Muhammad saw, maka
tidak ada keharusan bagi orang
Quraisy untuk mengembalikannya kepada
Nabi.
Syarat tersebut
sangat menyakitkan kaum Muslim. Tampak bahwa orang-orang Quraisy
memaksakan kehendaknya dalam syarat-syarat perjanjian yang tidak adil itu. Ali melanjutkan tulisannya,
hendaklah Nabi saw pulang dari Mekah pada
tahun ini dan tidak memasukinya dan
jika pada tahun depan orang-orang Quraisy keluar darinya, maka beliau dapat memasukinya untuk melaksanakan umrah
selama tiga hari dan setelah itu beliau harus meninggalkannya.
Persyaratan tersebut sangat merugikan kaum Muslim dan terkesan membingungkan.
Di
tengah-tengah perjanjian tersebut terjadi suatu peristiwa yang menambah penderitaan dan kebingungan
Muslimin di mana anak dari juru runding
Quraisy meminta perlindungan kepada kaum
Muslim. Ia masuk Islam dan ingin bergabung dengan kelompok Islam namun ayahnya, Suhail segera bangkit
menyusulnya bahkan memukulnya dan
mengembalikannya kepada kaumnya. Orang Mukalaf
itu segera berteriak dan meminta pertolongan kepada kaum Muslim agar mereka menyelamatkannya dari
kejahatan kaum Quraisy sehingga mereka tidak mengubah agamanya.
Rasulullah saw berbicara kepadanya dan meminta kepadanya untuk bersabar dan tegar dalam menanggung penderitaan karena
Allah SWT akan menjadikannya dan
orang-orang yang sepertinya suatu jalan keluar dan kelapangan. Nabi memahamkannya bahwa beliau telah mengadakan
suatu peijanjian dengan kaum Quraisy dan bahwa kaum Muslim tidak mungkin melanggar perjanjian mereka.
Akhirnya,
anak Muslim itu dikembalikan ke Mekah dalam keadaan tersiksa.
Kemudian Selesailah penandatanganan perjanjian antara pihak kaum
Muslim dan pihak kaum musyrik. Setelah penandatanganan perjanjian itu,
Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya agar mereka memotong hewan
kurban dan mencukur rambut mereka (tahalul) dari umrah mereka dan
kembali ke Madinah. Namun tak seorang pun bangkit menyambut perintah tersebut,
lalu beliau mengulangi perintahnya ketiga kali. Di tengah-tengah kaum Muslim
yang tampak membisu karena ketegangan dan kesedihan, beliau menyembelih unta
dan memanggil tukang cukurnya untuk mencukur rambutnya dan beliau tidak
berbicara dengan
seorang pun. Ketika para sahabat mengetahui bahwa Nabi saw tampak marah dan telah mendahului mereka dengan tahalul dari
umrahnya, maka mereka bangkit untuk menyembelih kurban dan memotong rambut mereka.
Perjalanan hari
menunjukkan bahwa perundingan tersebut tidak seperti yang dibayangkan oleh
kaum Muslim. Ia justru membawa kemenangan dan bukan kekalahan. Persatuan kaum kafir di jazirah Arab mulai runtuh sejak mereka
menandatangani perjanjian itu. Kaum
Quraisy di anggap sebagai pimpinan kaum kafir dan pembawa bendera penentangan
terhadap Islam, maka ketika tersebar
berita perjanjian mereka bersama kaum Muslim, maka padamlah fitnah-fitnah kaum munafik yang bekerja untuk
mereka dan bercerai-berAllah
kabilah-kabilah penyembah patung di penjuru jazirah.
Saat aktivitas kaum Quraisy terhenti, maka
kaum Muslim mengalami peningkatan aktivitas di mana mereka berhasil
menarik orang-orang yang masih memiliki kemampuan untuk melihat
kebenaran. Sejak
dua tahun dari masa penandatanganan perjanjian itu jumlah penganut
Islam semakin bertambah lebih dari jumlah sebelumnya. Bukti dari itu
adalah, bahwa saat
Rasul saw keluar ke Hudaibiyah beliau
ditemani dengan seribu empat ratus Muslim namun ketika beliau keluar
pada tahun penaklukan kota Mekah beliau
disertai dengan sepuluh ribu Muslim. Penaklukan kota Mekah terjadi
setelah dua tahun dari perundingan
tersebut. Penambahan jumlah kaum
Muslim yang luar biasa ini adalah dikarenakan hikmah sang Nabi saw dan
kejauhan
pandangannya. Nabi saw keluar sebagai
pemenang dalam pergulatan politiknya, dan syarat-syarat yang tadinya
merugikan kaum Muslim kini telah berubah
menjadi syarat-syarat yang merugikan kaum Quraisy. Barangsiapa murtad
dari kaum Muslim dan pergi ke kaum
Quraisy, maka hendaklah mereka
melindunginya karena Allah SWT telah memampukan Islam darinya, dan
barangsiapa yang masuk Islam dari kaum kafir
dan pergi ke kaum Muslim, maka hendaklah mereka mengembalikannya ke kaum
Quraisy di mana ia tinggal di dalamnya sebagai mata-mata dari pihak
Islam atau
ia dapat lari dari kaum Quraisy untuk menyatukan kelompok yang bertikai
dan ia dapat hidup laksana duri di
tengah-tengah kaum Quraisy.
Belum lama
waktu berjalan sehingga kaum Quraisy mengutus utusannya kepada Nabi
saw dan mengharap kepada beliau agar melindungi orang Quraisy yang masuk
Islam daripada membiarkan mereka sebagai panah yang terbang menuju kaum
Quraisy. Demikianlah kaum Quraisy justru membatalkan syarat yang telah mereka
diktekan dan Nabi saw pun menerimanya dengan puas. Perundingan itu
justru menguatkan barisan Nabi savv.
Demikianlah Nabi saw terus menjalani mata
rantai pergulatan yang tiada henti-hentinya
di mana kehidupan beliau yang pribadi sekali pun tidak sunyi dari
penderitaan. Nabi saw menikahi sembilan orang istri. Perkawinan beliau dengan
sembilan istri tersebut merupakan
keistimewaan pribadi yang hanya beliau miliki karena berhubungan dengan
sebab-sebab dakwah Islam. Yaitu suatu dakwah yang membolehkan para
pengikutnya untuk menikahi empat orang istri dengan syarat jika yang
bersangkutan mampu menciptakan keadilan di
antara mereka, dan ia menganjurkan untuk hanya puas dengan satu istri
jika seorang Muslim khawatir tidak dapat
berbuat adil.
Kaum orentalis dan musuh-musuh Islam mencoba
untuk menghina Nabi
dan memojokkannya, dan salah satu cela yang mereka manfaatkan adalah
perkawinan beliau dengan sembilan wanita. Kita mengetahui bahwa
pernikahan-pernikahan beliau
terlaksana dengan sebab-sebab politik
atau kemanusiaan yang berhubungan dengan dakwah Islam. Dan yang terkenal
dari
sejarah Nabi saw adalah bahwa beliau
menikah dengan Sayidah Khadijah saat beliau berusia dua puluh lima tahun
dan Khadijah berusia empat puluh tahun. Semasa hidup Khadijah beliau
tidak menikahi
istri yang lain sampai Khadijah
mencapai usia enam puluh lima tahun. Saat Khadijah meninggal, Nabi
berusia di atas lima puluh tahun. Beliau menikahi Khadijah sebelum
beliau diutus untuk
menyebarkan Islam. Beliau tetap setia
bersama Khadijah sampai ia meninggal dan beliau diangkat menjadi Nabi.
Namun beban kenabian dan beratnya jihad, kasih sayangnya kepada manusia,
pengorbanannya terhadap Islam dan
perintah Allah SWT semua itu memaksanya untuk menikah lebih dari satu
orang istri sampai mencapai sembilan orang istri. Perkawinan beliau
dengan Aisyah yang
saat itu masih belia merupakan usaha untuk menjalin ikatan dengan Abu
Bakar, ayah dari Aisyah dan perkawinan
beliau dengan Hafshah meskipun ia
sedikit kurang cantik merupakan usaha beliau untuk menjalin ikatan
dengan Umar, ayahnya. Beliau juga menikah
dengan Ummu Salamah, janda dari
pemimpin pasukannya yang mati syahid di jalan Allah SWT dan wanita itu
merasakan penderitaan bersama beliau saat hijrah di Habasyah dan hijrah
ke
Madinah. Ketika suaminya meninggal
dan ia sendirian menghadapi berbagai persoalan kehidupan, maka Nabi saw
segera merangkulnya di rumah kenabian.
Perkavvinan beliau dengan Sawadah sebagai bentuk penghormatan terhadap
keislaman wanita itu dan kemuliannya dari kaum lelaki serta
kesendiriannya dalam menjalani
kehidupan. Sementara itu, pernikahan beliau dengan Zainab bin Jahasy
merupakan ujian berat bagi beliau di mana
perintah pernikahan itu datang dari Allah SWT untuk mengharamkan suatu
tradisi yang terkenal di kalangan jahiliah
yaitu tradisi adopsi. Zainab termasuk kerabat
Rasul. Jadi ia termasuk dari kalangan bani Hasyim. Ia merasa bangga
dengan nasab yang dimilikinya yang
karenanya ia menolak ketika ditawari
untuk menikah dengan Zaid bin Harisah, seorang
budak Nabi yang telah beliau bebaskan, bahkan nasabnya telah beliau
nisbatkan kepada dirinya dan beliau
telah mengadopsinya sehingga ia dipanggil dengan sebutan Zaid bin
Muhammad. Namun Zainab akhirnya menyetujui
pendapat Nabi dan perintah Allah SWT
sehingga ia menikah dengan Zaid:
"Dan tidaklah
patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukimin,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetaphan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.
Dan barangsiapa mendurhahai Allah dan Rasul-Nya, maka
sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. " (QS.
al-Ahzab: 36)
Sejak semula tampak
jelas bahwa pernikahan tersebut akan segera berakhir. Zainab tidak
menyukai Zaid dan Zaid pun bukan tipe lelaki yang mampu menahan
kehidupan
bersama seorang wanita
yang hatinya jauh darinya. Zaid datang kepada Nabi saw guna mengadu
kepada beliau dan meminta izin untuk menceraikan istrinya. Allah SWT
mewahyukan kepada
Rasul-Nya agar membiarkan Zaid
menceraikan istrinya, lalu hendaklah beliau menikahinya. Nabi saw
merasakan kesulitan yang luar biasa dan beliau berbicara kepada Zaid
agar ia terus melangsungkan kehidupannya dan bersabar. Nabi saw
membayangkan apa yang
dikatakan manusia kepadanya bahwa ia menikahi istri dari anaknya tetapi
apa yang dikhawatirkan oleh Nabi saw justru
merupakan sesuatu yang ingin dihapus oleh Allah SWT. Zaid bukanlah
anaknya dan
dalam Islam tidak ada sistem adopsi. Oleh karena itu, Zaid dapat
mencerai istrinya
lalu Nabi dapat menikahi Zainab untuk menetapkan apa yang diinginkan
oleh Islam. Rasulullah saw mampu
bersabar dan menahan diri saat mendengar berbagai ocehan yang akan
dikatakan
oleh manusia kepadanya. Ini bukanlah
pengorbanan pertama dan terakhir yang
beliau persembahkan untuk Islam. Berkenaan dengan itu, Allah SWT
berfirman:
"Dan (ingatlah),
ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat
kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:
'Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,' sedang kamu
menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan
menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang
lebih berrhak kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan
terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan kamu dengan
dia supaya tidak ada heberatan bagi orang-orang mukmin untuk
(menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak
angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istrinya. Dan adalah
ketetapan Allah itu pasti terjadi. " (QS. al-Ahzab: 37)
Pemikahan
beliau dipenuhi dengan unsur politik dan usaha untuk menyebarkan
kebaikan dan rahmat serta penghormatan nilai-nilai yang tinggi dan
menggabungkannya di rumah kenabian. Sementara itu, Ummu Habibah binti Abu
Sofyan bin Harb, pemimpin Quraisy dalam memerangi Islam, berhijrah bersama
suaminya ke Habasyah.
Ia berhadapan dengan
keterasingan dan kekhawatiran dalam membela agama Allah SWT. Kemudian suaminya
mati meninggalkannya sendirian dalam menjalani kehidupan. Sikapnya yang
mulia demi menegakkan ajaran Islam dan hanya menentang ayahnya merupakan
nilai lebih yang menyebabkan Rasulullah saw tertarik untuk
menggabungkannya di rumah kenabian.
Pada suatu
hari, Abu Sofyan menemuinya saat ia telah menjadi istri Rasulullah saw. Abu
Sofyan ingin duduk di atas tempat tidur Nabi lalu Ummu Habibah berusaha
menjauhkan tempt tidur itu dari ayahnya. Melihat sikap anaknya itu,
ayahnya bertanya kepadanya: "Apakah engkau mulai membenciku?"
Dengan penuh keberaniaan ia menjawab: "Ini adalah tempat tidur
Rasulullah saw dan engkau adalah seorang musyrik, maka engkau tidak boleh
menyentuhnya."
Adapun
Shofiyah binti Huyay adalah anak seorang raja Yahudi. Sedangkan
Juwairiyah
binti Haris, ayahnya seorang pemimpin kabilah Bani Musthaliq. Bani
Musthaliq
menelan kekalahan saat berhadapan dengan kaum muslim lalu kedua anak
perempuan raja dan pemimpin kabilah itu jatuh menjadi tawanan. Pemikahan
Nabi dengan kedua wanita itu terkesan dipaksa oleh orang-orang yang
kalah itu
dan sebagai ajakan agar kaum Muslim memperlakukan mereka dengan baik.
Mula-mula kaum Muslim menolak untuk bersikap lembut terhadap ipar-ipar
Nabi, namun Nabi dengan
kelembutan sikapnya ingin menyingkap aspek
kemanusiaan dalam peperangannya dan
beliau mengisyaratkan kepada kaum Muslim agar mereka menunjukkan
persaudaraan sesama manusia. Peperangan itu sendiri bukan sebagai tujuan
namun ia sebagai
usaha mempertahankan Islam dan aspek tertinggi dari Islam adalah rahmat
dan
cinta.
Jadi Nabi saw menikahi wanita-wanita
dari orang-orang yang kalah itu dengan maksud agar kebebasan dan kemuliaan
kembali kepada keluarga mereka dan mereka
dapat masuk Islam secara puas dan sukarela. Kemudian beliau menikah
dengan Maryam al-Qibtiyah. Muqauqis telah
memberikannya kepada Nabi sebagai budak
di mana itu merupakan simbol tali kasih yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an antara Islam dan Masehi dan
sebagai bentuk hukum bagi kaum Muslim dengan dihalalkannya pernikahan dengan wanita-wanita
ahlul kitab.
Maryam
memberikan anak kepada Nabi saw yang bernama Ibrahim, nama dari
kakeknya, bapak para nabi. Namun Ibrahim tidak hidup lama. Ia meninggal
saat
masih menyusu. Kematiannya merupakan ujian bagi Nabi dan sebagai
isyarat dari Ilahi bahwa pewaris-pewaris Rasul dari kaum pria adalah
para pengikut Al-Qur'an dan para pembawa Islam, bukan anak-anak
dari sulbinya.
Salah jika ada orang yang membayangkan
bahwa Rasul saw mempunyai banyak waktu untuk
mencari kesenangan meskipun halal.
Kesenangan diperbolehkan bagi orang lain namun beliau lebih memilih untuk merasakan penderitaan
berjihad, menegakkan hukum, dan kesabaran. Salah jika ada orang yang
membayangkan bahwa Rasul saw hidup di
rumahnya dengan keadaan ekonomi yang
lebih baik daripada orang yang termiskin dari kalangan Muslim di zamannya.
Kehidupan
beliau di rumahnya penuh dengan kezuhudan yang luar biasa sehingga
sebagian istrinya mengeluhkan keadaan tersebut. Di antara mereka
ada yang berasal dari keluarga yang kaya seperti keluarga Abu Bakar atau keluarga Umar bahkan
sebagian istrinya bersatu untuk meminta kepada beliau agar beliau menambah nafkah mereka sehingga Nabi meninggalkan
istri-istrinya, lalu tersebarlah isu
yang menyatakan bahwa beliau telah menceraikan semua istrinya. Kemudian turunlah ayat
Takhyir (yaitu ayat yang memberikan pilihan kepada istri-istri Nabi untuk
tetap menjadi istri beliau atau
diceraikannya). Turunlah Al-Qur'an al-Karim memberikan pilihan pada istri-istri Nabi antara menjalani
kehidupan di rumah kenabian dengan
penuh kesederhanaan atau menerima perceraian.
Allah SWT berfirman:
"Hai Nabi,
katakanlah kepada istri-istrimu: 'Jika kamu sekalian mengingini
kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan
kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika
kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta
(kesenangan) di negeri akhirat, maka Sesungguhnya Allah menyediakan
siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.
" (QS. al-Ahzab: 28-29)
Selesailah fitnah.
Demikianlah pergulatan di rumah Rasul saw. Akhirnya, istri-istri beliau memilih
kehidupan zuhud dan bersabar serta akhirat daripada kehidupan dunia.
Permintaan istri-istri nabi tidak melebihi hal-hal yang bersifat mubah,
namun Rasul saw merupakan teladan bagi seluruh umat, karena itu beliau harus
menjadi teladan bagi umat sehingga beliau dapat menjadi cermin tertinggi yang layak
diemban oleh seorang yang memegang tampuk kepemimpinan Muslimin.
Allah SWT telah membalas pengorbanan istri-istri Nabi saw dalam
bentuk mengangkat kedudukan mereka dan menjadikan mereka sebagai ibu dari
kaum mukmin. Allah SWT berfirman:
"Nabi
itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka
sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka." (QS.
al-Ahzab: 6)
Dan, sebagai
penegasan terhadap keibuan spiritual ini, Islam mewajibkan hijab yang
teliti kepada mereka, yaitu suatu hijab yang tidak diberlakukan
seperti itu kepada Muslimah-Muslimah lain. Nabi saw melanjutkan
dakwahnya. Beliau mengirim surat ke raja-raja dan para penguasa di mana beliau
ingin menunjukkan universalitas ajaran Islam. Nabi saw mengajak Kaisar Romawi
untuk mengikuti Islam, lalu beliau mengirim utusan ke Amir Damaskus mengajaknya
untuk memeluk Islam, dan beliau mengutus utusan ke Amir Basrah bagian
dari wilayah Romawi dan mengajaknya untuk mengikuti Islam, dan beliau juga
mengirim surat ke penguasa Qibti dan mengajaknya untuk masuk Islam, dan
beliau juga menulis surat ke Kisra, Raja Persia dan mengajaknya untuk mengikuti
Islam. Beliau juga mengirim utusan ke Amir Bahrain dan mengajaknya untuk
mengikuti Islam.
Lalu berbagai reaksi
disampaikan berkenaan dengan surat-surat Nabi itu. Di antara mereka ada
yang
berusaha menyampaikan kepada pembawa surat bahwa ia masuk Islam dan
mengembalikannya dengan hadiah, dan di antara mereka ada yang
merobek-robek
surat
itu dan di antara mereka ada yang membalas surat itu dengan jawaban yang
baik, dan di antara mereka ada yang menerima kebenaran. Demikianlah hari
berlalu dalam
pergulatan yang tidak pernah padam, suatu
pergulatan yang dipimpin oleh Nabi sehingga beliau menaklukkan Mekah dan
menyucikan jazirah Arab. Akhirnya, manusia masuk dalam agama Allah SWT
dalam
keadaan berbondong-bodong, dan Allah
SWT menyempurnakan agama bagi kaum
Muslim dan Nabi saw melaksanakan haji wada' (haji yang terakhir) dan
turunlah
kepada beliau wahyu di Arafah sebagaimana firman-Nya:
"Pada hari ini
telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itujadi agama
bagimu. " (QS. al-Maidah: 3)
Ayat
tersebut dibacakan kepada Abu Bakar sehingga ia menangis. Allah SWT
merasa bahwa telah tiba waktunya untuk mengakhiri misi
Rasul-Nya. Aisyah berkata kepada anak-anak yang berteriak dan bermain-main di luar rumah:
"Diamlah kalian karena Rasulullah saw
sedang sakit." Anak-anak itu pun terdiam dan mereka merasakan
ketakutan yang luar biasa. Pada hari-hari terakhir, Rasulullah saw tidak lagi
bercanda dengan mereka sebagaimana yang
biasa beliau lakukan.
Mereka memperhatikan bahwa kepucatan yang aneh menyelimuti Nabi saw
yang biasanya wajah beliau dipenuhi
dengan senyuman hingga wajahnya
laksana lempengan emas. Nabi saw yang
terakhir masuk dalam rumahnya dan hampir saja beliau tidak kuat menahan
langkah kedua kakinya. Beliau
memasuki rumahnya dan bersandar
kepada tangan Fadl bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib. Beliau merasakan
keletihan dan kesakitan. Kemudian Aisyah menidurkan beliau di atas
ranjangnya yang
kasar dan Aisyah meletakkan
tangannya di atas kening beliau. Kepala beliau tampak panas karena
saking hebatnya demam. Aisyah berkata dalam keadaan
kedua matanya mengucurkan air mata, "demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah
apakah engkau merasakan
sakit?" Nabi saw tersenyum untuk menenangkan Aisyah lalu beliau
tertidur. Kemudian
mengalirlah dalam memori Nabi saw berbagai gambar hidup: Jibril turun
kepada beliau dengan membawa wahyu di
gua Hira. Beliau telah melewati waktu
yang diberkati selama dua puluh tiga tahun, yang sekarang tampak seperti
mimpi. Bahkan empat puluh tahun yang
mendahuluinya tampak seperti gambar yang hanya dilukis sesaat.
Segala sesuatu menjadi mudah bagi Allah SWT
dan Rasulullah saw telah berhasil melalui berbagai penderitaan dengan
penuh kesabaran, bahkan beliau tidak pernah mengeluh sekali pun. Beliau mengajarkan
akidah kepada para pengikutnya dengan penuh kemantapan. Akhirnya,
Islam menjadi mulia dan benderanya semakin berkibar. Kemudian beliau bangun
karena melihat tangisan yang tersembunyi dari Aisyah. Beliau membuka kedua
matanya dan melihat wajah Aisyah sambil beliau sendiri berusaha melawan rasa
pusing, demam, dan sakit yang dirasakannya. Beliau kembali tersenyum untuk menenangkan Aisyah
dan beliau kembali memejamkan matanya dan
tidak sadarkan diri. Apa gerangan yang menyebabkan
Aisyah menangis? Tidakkah Allah SWT memahkotai jihad Nabi saw yang berat
dengan penaklukan Mekah dan penyucian
Baitul Haram?
Berbagai
gambar hidup dan aktual melayang-layang dalam memori Nabi saw.
Beliau mengingat bagaimana tindakan orang Quraisy ketika membantalkan
perjanjian
Hudaibiyah dan mereka memerangi Khaza'ah yang
saat itu bersekutu dengan kaum Muslim
dan akhirnya mereka membunuh semua sekutu kaum Muslim di Baitul Haram.
Kemudian beliau berjalan bersama pasukan yang
berjumlah sepuluh ribu di mana semua pasukan telah siap, dan tentara
Muslim turun dari gunung Mekah laksana air
bah yang tidak berhenti sedikit pun. Telah lewatlah masa para pembawa
tombak, panah, dan pedang; telah lewatiah
masa di mana Rasulullah saw memimpim
pasukan yang di dalamnya terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Di
tengah-tengah pasukan besar tersebut yang
berhasil menaklukkan Mekah, Nabi saw menunggangi untanya dan beliau
menundukkan kepalanya dengan penuh rendah diri di hadapan Allah SWT
sampai-sampai
kepalanya hampir menyentuh punggung
unta yang dinaiki. Pintu Mekah terbuka untuk
pasukan ini.
Para pemimpin Mekah dan
pengikut-pengikut mereka menyerahkan diri.
Kalimat Allah SWT semakin meninggi di dalamnya. Nabi saw memasuki Baitul
Haram lalu beliau berkeliling di sekitar Ka'bah. Beliau menghancurkan
berbagai patung yang
berbaris di sekitarnya, lalu beliau
memukulnya dengan kampaknya. Kemudian patung-patung
itu berjatuhan dan hancur. Setelah beliau membersihkan masjid dari
berbagai patung dan mengembalikannya sebagaimana yang diciptakan oleh
Allah SWT sebagai
rumah tauhid yang mutlak, beliau menoleh kepada orang Quraisy dan
memaafkan mereka dan mengajak mereka untuk kembali ke
jalan Allah SWT. Kemudian tibalah
waktu salat, lalu Bilal naik di atas punggung Ka'bah dan mengumandangkan
Azan. Penduduk Mekah mende-ngarkan panggilan baru ini di mana gemanya
berputar-putar di antara gunung:
"Allah Maha
Besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad utusan
Allah. Marilah melaksanakan salat. Marilah menuju keberuntungan. Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah."
Akhirnya, rumah itu dikembalikan
kehormatannya dan kemuliannya. Kemudian
lagi-lagi arus berbagai gambar terlintas dalam memorinya: itulah
peperangan Hunain dengan kekalahannya, kemenangannya, dan ganimahnya;
Itulah Nabi saw
yang memberikan ganimah terhadap orang-orang yang bergabung dengan Islam
hanya dua hari dari penduduk Mekah, dan mencegah untuk memberi ganimah
Hunaian
kepada kaum Anshar yang telah memberikan
segalanya untuk Islam. Salah seorang di antara mereka berkata: "Demi
Allah, Rasulullah saw telah menemui
kaumnya." Sa'ad bin 'Ubadah
berjalan ke arah Rasulullah saw dan memberitahunya bahwa kaum Anshar
sedang marah. Rasul saw
bertanya: "Mengapa marah?" Sa'ad menjawab: "Mereka protes saat
engkau membagikan ganimah ini pada
kaummu dan pada seluruh orang Arab namun mereka tidak mendapatkan
apa-apa." Rasulullah saw bertanya kepada Sa'ad bin Ubadah:
"Kamu sendiri bagaimana pendapatmu wahai
Sa'ad?" Sa'ad berkata: "Aku tidak lain kecuali seseorang dari kaumku."
Rasulullah saw berkata:
"Kumpulkanlah kepadaku kaummu untuk masalah yang penting ini dan
jika kalian telah berkumpul, maka
beritahulah aku."
Sa'ad mengumpulkan
seluruh kaum Anshar lalu ia memberitahu Rasul saw bahwa ia telah mengumpulkan
mereka. Rasulullah saw keluar menemui mereka dan berdiri di hadapan mereka
sambil memuji Allah SWT dan kemudian berkata: "Wahai orang-orang Anshar,
tidakkah aku datang kepada kalian saat kalian dalam keadaan sesat lalu Allah
SWT memberikan petunjuk kepada kalian, dan kalian menjadi orang-orang yang fakir lalu
Allah SWT memampukan kalian, dan kalian dalam
keadaan bermusuhan lalu Allah SWT
menyatukan hati kalian?" Mereka menjawab: "Benar." Rasulullah saw berkata: "Mengapa kalian tidak menjawab
wahai kaum Anshar?" Mereka
berkata: "Apa yang kita akan katakan wahai Rasulullah dan dengan apa kita
akan menjawabnya. Sungguh segala karunia hanya milik Allah SWT dan Rasul-Nya."
Rasulullah saw
berkata: "Demi Allah, seandainya kalian mau niscaya kalian akan
mengatakan dan benar apa yang kalian katakan: Engkau datang kepada
kami sebagai seorang yang terusir, maka kami melingdungimu dan engkau datang
dalam keadaan miskin lalu
kami menghiburmu dan engkau datang dalam keadaaan ketakutan lalu kami mengamankanmu dan engkau datang dalam keadaan teraniaya
lalu kami menolongmu." Mereka berkata: "Segala puji dan karunia bagi Allah SWT dan Rasul-Nya."
Rasulullah saw berkata: "Wahai
kaum Anshar, apakah kalian akan marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada suatu kaum dengan harapan agar
keimanan meresap dalam hati mereka dan kalian justru melupakan karunia
yang telah Allah SWT berikan kepada kalian
dalam bentuk nikmat Islam. Tidakkah kalian wahai kaum Anshar merasa puas ketika manusia pergi untuk
melakukan perjalanan di musim dingin
sedangkan kalian pergi dengan Rasulullah saw. Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya manusia melalui
suatu jalan dan kaum Anshar melalui jalan yang lain niscaya aku akan melalui jalan kaum Anshar. Ya Allah,
rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak kaum Anshar dan cucu kaum
Anshar."
Mendengar doa itu,
kaum tersebut menanggis sehingga jenggot mereka terbasahi dengan air
mata dan
mereka berkata: "Kami rela dengan Allah SWT sebagai Tuhan dan sangat
puas dengan pembagian Rasulullah saw." Kemudian Nabi saw pun
meninggalkan mereka dan mereka pergi dalam keadaan puas. Orang-orang
Anshar
memahami bahwa Muslim yang hakiki di dunia adalah seorang yang datang di
dunia untuk
memberi, bukan untuk mengambil. Nabi saw
terbangun dan beliau mendapati dirinya sendirian di kamar. Suhu tubuh
beliau
meningkat karena demam, lalu beliau memanggil Aisyah dan meminta
kepadanya untuk membawa air yang dapat
digunakannya untuk mendinginkan tubuhnya. Aisyah mulai menuangkan air
kepada Rasulullah saw sampai demam beliau berangsur-angsur sedikit
menurun. Tampak
bahwa waktu berlalu cukup lambat dan
berat. Sakit Rasulullah saw semakin meningkat.
Beliau mulai
merasa bahwa tidak mampu lagi untuk salat bersama para sahabat,
lalu beliau memerintahkan Abu Bakar untuk salat bersama mereka. Pada saat Nabi
mengalami antara keadaan terjaga dan tidur, beliau selalu berpikir apa gerangan
yang belum disampaikannya kepada manusia.
Beliau telah menyampaikan segala
sesuatu dan telah mengajari mereka segala sesuatu serta telah meninggalkan
sebuah Kitab yang siapa pun berpegangan dengannya ia tidak akan sesat.
Rasul saw mulai mengantuk dan berbagai
nostalgia terlintas di kepalanya. Beliau melihat dirinya di haji Wada'. Selesailah
perjanjian yang diberikan kepada kaum musyrik dan mereka telah dilarang
untuk memasuki Masjidil Haram dan sekarang Nabi saw keluar sebagai
pemimpin haji dan mengajari kaum Muslim cara manasiknya. Rasulullah saw
memperhatikan ribuan orang-orang yang bertauhid saat mereka menuju Baitul Haram
dalam keadaan memenuhi panggilan Tuhan dan tunduk kepadanya. Mereka menghidupkan memori kakek mereka,
Ibrahim Khalilullah. Nabi saw berdiri dan
berpidato di tengah-tengah keramaian itu. Nabi saw mulai merasakan bahwa kehidupannya di dunia
sebentar lagi akan berakhir. Beliau
mengetahui bahwa kafilah ini akan pergi sendirian dalam menjalani kehidupan. Beliau kembali
menanamkan nilai-nilai Islam dan
wasiat dakwah di jalan Allah SWT. Setelah berjuang selama dua puluh tiga tahun menegakkan agama
Allah SWT, beliau bertanya kepada mereka: "Apakah aku telah menyampaikan
amanat Tuhan?" Lalu manusia yang
hadir saat itu menyatakan bahwa beliau benar-benar
telah menyampaikan dakwah. Beliau memanggil Mu'ad bin Jabal dan
mengajarinya bagaimana berdakwah kepada manusia
di jalan Allah SWT dan bagaimana mengenalkan agama kepada mereka.
Kemudian beliau
berwasiat kepadaa Mu'ad saat ia menunggangi kendaraannya sedangkan
Rasulullah saw
beijalan di sebelah untanya:
"Sesungguhnya orang yang paling utama di sisiku adalah orang-orang yang
bertakwa, siapa pun mereka dan di
mana pun mereka." Nabi saw
adalah rahmat bagi semua manusia dan sebagal cermin yang tertinggi dari
cermin persaudaraan dan kepatuhan. Beliau menegakkan Al-Qur'an di
tengah-tengah umat
Islam namun beliau menolak segala bentuk penampilan yang biasa melekat
pada
seorang penguasa atau raja atau pemimpin apa pun. Beliau berkata kepada
para sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba Allah SWT dan Rasul-Nya."
Beliau keluar
menemui sekelompok sahabatnya lalu sebagai bentuk penghormatan
kepada beliau mereka berdiri. Kemudian beliau memerintahkan kepada mereka agar tidak berdiri.
Ketika beliau keluar untuk menemui
sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya, maka beliau duduk bersama mereka
di tempat terakhir yang ditemukannya. Beliau sangat bersahabat dan ramah dengan
para sahabatnya, bahkan beliau bercanda
dengan anak-anak mereka dan
mendudukkan mereka di ruangannya. Beliau memenuhi panggilan orang dewasa
maupun anak-anak. Beliau membesuk orang-orang yang sakit meskipun berada di
tempat yang jauh. Beliau menerima alasan
orang yang mempunyai uzur. Beliau mendahului
orang yang ditemuinya dengan salam bahkan beliau mendahului berjabat tangan dengan para sahabatnya.
Ketika seseorang
datang untuk menemuinya saat beliau salat, maka beliau mempersingkat
salatnya
dan menanyakan keperluan orang itu. Setelah menyelesaikan keperluan
manusia, beliau kembali menyelesaikan shalatnya. Beliau selalu menebar
senyum kepada kawan dan lawan dan
memiliki kepribadian yang paling baik. Ketika beliau berada di rumahnya,
beliau melayani keluarganya. Beliau mencuci
bajunya. Beliau memperbaiki sandalnya dan memberi minum unta. Beliau
makan bersama pembantu. Beliau memenuhi kebutuhan
orang yang lemah, orang yang sedih, dan orang yang miskin. Bahkan
kebaikan beliau dan kasih sayangnya
sampai pada tingkat di mana beliau
membiarkan cucunya menaiki punggungnya saat
beliau sedang shalat.
Kasih sayang
beliau tidak hanya terbatas kepada manusia bahkan juga tertuju pada
binatang
dan pohon. Beliau memberi makan binatang dengan tangannya sendiri bahkan
beliau
pernah merawat anjing yang sakit. Beliau memerintahkan pasukan Islam
saat berperang demi
menegakkan keadilan Islam agar mereka tidak membunuh anak kecil, orang
tua, kaum wanita dan hendaklah mereka tidak mencabut pohon dan tidak
pula merobohkan
rumah.
Apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya
suatu undang-undang yang mengatur hubungan
antara manusia dan manusia yang lain,
dan apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya berisi suatu sistem untuk
meningkatkan kualitas kehidupan
dan kemajuannya, ini semua adalah hal relatif namun beliau datang dengan
membawa peradaban yang abadi yang mengatur hubungan antara manusia dan
alam, dan mengembalikan keserasian di
alam wujud sehingga semua berjalan
secara seimbang dan mencapai kesempurnaan
menuju Allah SWT. Meskipun pada titik terakhir dari kehidupannya, beliau
masih sibuk mengurusi masa depan dakwah dan beliau
sangat cemas terhadap masa depan agama dan sangat peduli dengan problema
kaum Muslim. Beliau khawatir suatu
saat Islam hanya tinggal namanya namun hakikatnya telah lenyap. Namun
sebelum beliau meninggal, Allah SWT telah
memperlihatkan kepada beliau sesuatu
yang membuat hati beliau menjadi tenang. Dan di hari Senin dari bulan
Rabiul Awal yang mulia, beliau kembali kepada Tuhannya dalam keadaan
ridha dan diridhai.
Salam kepadamu ya
Rasulullah dan kepada keluarga serta sahabat yang setia bersamamu.♦